Adik Suami Pemuas Nafsuku

6th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1010 Views | No Comments

www.sang-pakar.pw Adik Suami Pemuas Nafsuku


Pengalaman nyata ini terjadi kurang lebih
19 tahun yang lalu. Panggil saja aku Wita (nama samaran). Saat itu
usiaku 24 tahun dan sudah mempunyai 2 anak yang masih balita. Untuk
mengisi waktu aku bekerja sebagai salah satu manager pada perusahaan
yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru. Banyak orang mengatakan
diriku cantik. Dengan tinggi badan 161 cm, berat badan 48 kg aku masih
kelihatan seperti gadis remaja.


Sejak masih remaja nafsu seksku
memang tinggi. Keperawananku telah direnggut oleh seorang pria mantan
pacar pertamaku, saat aku berusia 17 tahun. Semasa pacaran dengan
suamiku yang sekarang, sebut saja namanya Zali, kami berdua telah
sering melakukan hubungan seks. Untungnya hubungan seks yang cukup kami
berdua lakukan sebelum menikah itu tidak sampai membuahkan hasil. Aku
bersyukur walau Zali mendapatkan diriku yang sudah tidak perawan lagi,
ia tetap bertanggung jawab menikahiku.

Kecintaan suami terhadap
kedua orang tuanya, menyebabkan kami sekeluarga tinggal di rumah
mertua. Di rumah mertua juga masih tinggal empat orang adik ipar,
dimana dua diantaranya adalah adik ipar laki-laki yang sudah dewasa.
Pekerjaan yang digeluti suami, menyebabkan suamiku sering melakukan
tugas dinas ke luar kota.

Suatu hari, sekitar bulan Mei, suamiku
mendapat tugas ke daerah untuk jangka waktu dua bulan. Beberapa hari
sebelum keberangkatannya, tanpa diduga ia bertanya kepadaku, “Mam,
seandainya Papa pergi untuk waktu yang cukup lama, apakah Mama tahan
nggak ngeseks?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan suamiku itu, “Nggak lah Pap..”

Namun
suamiku tetap mendesakku, dan selanjutnya berkata, “Papa nggak
keberatan kok jika Mama mau selingkuh dengan pria lain, asalkan Mama
mau dan pria itu sehat, Papa mengenalnya dan Mama jujur.”

Aku menjawab, “Mana mungkin lah Pap, siapa sih yang mau sama aku.”

Kemudian
suamiku menawarkan beberapa nama antara lain bosku, teman-teman prianya
dan terakhir salah satu adik kandungnya (sebut saja namanya Ary,
usianya lebih muda satu tahun dariku). Walaupun aku mencoba mengelak
untuk menjawabnya, ternyata suamiku tetap merayuku untuk berselingkuh
dengan pria lain. Pada akhirnya ia menawarkan aku untuk berselingkuh
dengan Ary. Terus terang, Ary memang adik iparku yang paling ganteng
bahkan lebih ganteng dari suamiku. Selain itu, Ary sering membantuku
dan dekat dengan kedua anakku. Perasaanku agak berdebar mendengar
tawaran ini dan saat itu pikiranku tergoda dan mengkhayal jika hal ini
benar-benar terjadi.

Kemudian aku mencoba mencari tahu alasan
suami menawarkan adiknya, Ary, sebagai pasangan selingkuhku. Tanpa
kuduga dan bak halilintar di tengah hari bolong, suamiku bercerita
bahwa sebelumnya tanpa sepengetahuanku ia pernah berselingkuh dengan
adik kandungku yang berusia 19 tahun saat adikku tinggal bersama kami
di kota M. Pengakuan suamiku itu menimbulkan kemarahanku. Kuberondong
suamiku dengan beberapa pertanyaan, kenapa tega berbuat itu dan apa
alasannya. Dengan memohon maaf dan memohon pengertianku, suamiku
memberikan alasan bahwa hal itu dilakukan selain karena lupa diri, juga
sebenarnya untuk menebus kekecewaannya karena tidak mendapatkan
perawanku pada malam pengantin. Aku mencoba menanggapi alasannya,
“Kenapa Papa dulu mau menikahiku..” Suamiku hanya menjawab bahwa ia
benar-benar mencintaiku. Mendengar alasan tersebut, aku terdiam dan
dapat menerima kenyataan itu, walau yang agak kusesalkan kenapa ia
lakukan dengan adik kandungku. Selanjutnya suamiku berkata, “Itulah Mam
mengapa Papa menawarkan Ary sebagai teman selingkuh Mama, tak lain
sebagai penebus kesalahan Papa dan juga agar skor menjadi 1-1,” sambil
ia memeluk dan menciumiku dengan penuh kasih sayang.

Aku mencoba
merenung, dan dalam benakku muncul niat untuk melakukannya. Pertama,
jelas aku menuruti harapan suami. Kedua, kenapa kesempatan itu harus
kusia-siakan, karena selain ada ijin dari suami, juga akan ada pria
lain yang mengisi kesepianku, lebih-lebih dapat memenuhi kebutuhan
seksku yang selalu menggebu-gebu dan sangat tinggi. Sempat kubayangkan
wajah Ary yang selama ini kuketahui masih perjaka. Ketampanannya yang
ditunjang oleh fisiknya yang tegap dan gagah. Kubayangkan tentunya akan
sangat membahagiakan diriku. Bermodalkan khayalan ini kuberanikan
berkata kepada suamiku, “Boleh aja Pap, asal Ary mau..” Mendengar
perkataanku tersebut, suamiku langsung memelukku dan akhirnya kami
berdua melanjutkan permainan seks yang sangat memuaskan.

Sehari
setelah suamiku berangkat ke luar kota, aku mulai berpikir mencari
strategi bagaimana mendekati Ary. Selain memancing perhatian Ary di
rumah, kutemukan jalan keluar yaitu minta tolong dijemput pulang dari
kantor. Waktu kerja di kantorku dibagi dalam dua shift, yaitu shift
pagi (08:00 – 14:30) dan shift siang (14:30 – 21:00). Rute pengantaran
selalu berganti-ganti, karenanya jika aku mendapat giliran terakhir,
pasti sampai rumah agak terlambat. Hal ini aku keluhkan kepada kedua
mertuaku. Mendengar keluhanku ini, kedua mertuaku menyarankan agar
setiap kali pulang dari dinas siang, tidak perlu ikut mobil antaran,
nanti Ary yang akan disuruh menjemputku. Hatiku begitu gembira
mendengar saran ini, karena inilah yang kutunggu-tunggu untuk lebih
dekat pada Ary. Sampai kedua kali Ary datang menjemputku dengan
motornya, sikapnya padaku masih biasa-biasa saja, walau dalam
perjalanan pulang di atas motor, kupeluk erat-erat pinggangnya dan
sekali-kali sengaja kusentuh penisnya.

Suatu hari, pembantu
rumah tanggaku terserang penyakit. Karena aku dinas siang, mertuaku
menyuruhku membawanya ke rumah sakit bersama Ary. Sambil menunggu
giliran pembantuku dipanggil dokter, aku dan Ary mengobrol. Dalam
obrolan itu, Ary menanyakan beberapa hal antara lain berapa lama
suamiku dinas di luar kota, dan apa aku tidak kesepian ditinggal cukup
lama. Pertanyaan terakhir ini cukup mengejutkan diriku, dan bertanya
sendiri dalam hati apa maksudnya. Tanpa sungkan aku memberanikan diri
menjawab untuk memancing reaksinya. “Yakh sudah tentu kesepian donk Ri,
apalagi kalau lama tidak disiram-siram.” sambil aku tersenyum genit.
Entah benar-benar lugu atau berpura-pura, Ary menanggapinya, “Apanya
yang disiram-siram..” Kujawab saja, “Masa sih nggak ngerti, ibarat
pohon kalau lama nggak disiram bisa layu kan..” Ary hanya terdiam dan
tidak banyak komentar, namun aku yakin bahwa Ary tentunya mengerti apa
yang kuisyaratkan kepadanya.

Selesai urusan pembantuku, kami
semua kembali ke rumah. Seperti biasa jam 14:00 aku sudah dijemput
kendaraan kantor. Sekitar jam 16:00 aku menerima telepon dari Ary.
Selain mengatakan akan menjemputku pulang, ia juga menyinggung kembali
kata-kataku tentang ‘siram menyiram’. Kukatakan padanya, “Coba aja
terjemahkan sendiri..” Sambil tertawa di telepon, Ary berkata, “Iya deh
nanti Ary yang siram..”

Tepat jam 21:00, Ary sudah datang
menjemputku dengan motornya. Dalam perjalanan, kutempelkan tubuhku
erat-erat dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku mencoba
memancing reaksi Ary dengan menyentuhkan jari-jari tanganku ke
penisnya. Kurasakan penisnya menjadi keras. Saat berada di depan Taman
Ria Remaja Senayan, Ary membelokan motornya masuk. Aku sedikit kaget,
dan mencoba bertanya, “Ri, kok berhenti di sini sih..?” Ary menjawab,
“Nggak apa-apa kan, sekali-kali mampir cuci pemandangan, sekalian
ngobrol lagi soal siram-siraman.” Aku mengangguk dan menjawab, “Iya
boleh juga Ri..”

Setelah parkir motor, tanpa sungkan, Ary
menggandeng pinggangku sambil berjalan, dan aku tak merasa risih
mendapat perlakuan ini. Setelah berhenti sebentar membeli dua cup coca
cola dan popcorn, sambil bergandengan aku dibawa Ary ke tempat yang
agak gelap dan sepi. Dalam perjalanan, kulihat beberapa pasangan yang
sedang asyik masyuk bercinta, yang mebuat nafsu seksku naik.

Setelah
mendapat tempat yang strategis, tidak ada orang di kiri kanan, kami
berdua duduk bersebelahan dengan rapat. Kemudian Ary membuka
pembicaraan dengan kembali mengulangi pertanyaannya. “Berapa lama Mas
Zali tugas di luar kota.?”

Kujawab, “Yah.. katanya sih dua bulanan, memang kenapa Ri?

“Apa Wita nggak akan kesepian begitu cukup lama ditinggal Mas Zali?” kata Ary.

“Yah
tentunya normal dong kesepian, apalagi nggak disiram-siram.” kuulangi
jawaban yang sama sambil kupandang wajah Ary dengan ekspresi menggoda.
Tiba-tiba Ary meletakkan tangannya di pundakku dan dengan beraninya
menarik wajahku. Kemudian ia mencium pipi dan melumat bibirku dengan
penuh nafsu. Diriku seperti terbang, kulayani lumatan bibirnya dengan
penuh nafsu pula. Sambil berciuman, dengan lirih Ary bertanya, “Oh Wita
sangat cantik, boleh nggak Ary mengisi kesepian Wita?”

Sebagai jawaban kubisikkan di telinganya, “Oh.. Ri, boleh saja, Wita memang kesepian dan butuh orang yang dapat memuaskan..”

Sambil
berciuman, tangan Ary membuka kancing bajuku dan memasukkan tangannya
di balik kutangku sambil meremas-remas buah dadaku dan memilin-milin
puting susuku. Tubuhku menggelinjang menahan rangsangan tangannya.
Kemudian tangannya terus turun ke bawah, dari balik rokku dan celana
dalamku yang sudah basah, ia memasukkan jari-jari tangannya
mempermainkan klitorisku. Nafsuku semakin naik, dengan lirih aku
mengerang, “Oh.. oh Ri, aduh Ary pinter sekali.. oh.. puaskan Wita Ri..
Oh..” Dengan semangat Ary mempermainkan vaginaku sambil kadang-kadang
ia melumat bibirku. Tubuhku terasa terbang menikmati permainan
jari-jari tangannya di vaginaku. Kurasakan satu dan akhirnya dua jari
Ary masuk ke dalam lubang vaginaku. “Oh.. Ri.. aduh.. enaknya Ri.. oh
terus Ri..” aku mengerang menahan kenikmatan. Mendengar eranganku,
kedua jari tangan Ary makin mengocok lubang vaginaku dengan gerakan
yang sangat merangsang. Dan akhirnya, beberapa menit kemudian karena
tak tahan, aku mencapai orgasme. “Oh Ri, aagh.. Wita keluar Ri..”
Kujilati seluruh permukaan wajah Ary dan kulumat bibirnya dengan
nafsuku yang masih tinggi. Ary masih tetap memainkan kedua jarinya di
dalam vaginaku. Begitu hebatnya permainan kedua jari tangan Ary yang
menyentuh daerah-daerah sensitif di dalam lubang vaginaku, membuatku
orgasme sampai tiga kali.

Kelihatannya Ary begitu bernafsu dan saat itu ia mengajakku bersetubuh.

“Wita.. boleh nggak Ary masukkan lontong Ary ke dalam apem Wita?”

Walau
aku sebenarnya juga menginginkannya, namun aku khawatir dan sadar akan
bahaya kalau ketahuan satpam Taman Ria. Kujawab saja, “Jangan di sini
Ri, bahaya kalau ketahuan satpam, nanti di rumah saja ya Yang..”

“Benar nih jangan bohong ya.. dan bagaimana caranya?” tanya Ary.

Kujawab saja, “Nanti kamar nggak dikunci, masuk aja Ri, yang penting jangan ketahuan orang rumah.”

Akhirnya
Ary setuju dengan tawaranku itu. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam
22:10 kami berdua sepakat pulang. Sebelum meninggalkan tempat, sambil
berdiri kami berdua berpelukan erat, saling melumat bibir dan lidah.
Sambil bergandengan mesra, tanpa khawatir kalau ada orang yang kenal
melihatnya, kami berdua berjalan menuju parkir motor. Dalam perjalanan
pulang, kupeluk erat tubuh Ary, sambil jari-jari tangan kananku
membelai dan meremas-remas lontongnya dari balik celananya.



Sesampainya di rumah, selesai mandi
kukenakan daster tidurku tanpa celana dalam, dan kusemprotkan parfum di
tubuhku, siap menanti pria yang akan mengisi kebutuhan seksku. Kulihat
kedua anakku sudah tidur pulas. Kemudian kira-kira jam 23:30 kumatikan
lampu kamar dan kurebahkan tubuhku di tempat tidur terpisah dari tempat
tidur anak-anakku. Sambil tidur-tidur ayam, kunantikan Ary masuk ke
kamarku. Sekitar jam 01:00, kulihat pintu kamar yang sengaja tidak
kukunci secara perlahan dibuka orang. Kulihat Ary dengan sarung masuk.
Setelah ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, ia menuju
tempat tidurku dan langsung menindih tubuhku dan menciumi wajah serta
bibirku. Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi vaginaku. Ary
berkata, “Wah sudah siap nih ya.. nggak pakai celana dalam..” Tak
berapa lama Ary mengangkat dasterku dan mempermainkan klitorisku dan
sesekali memasukkan jarinya ke lubang vaginaku, membuatku melayang dan
vaginaku cepat banjir. Ternyata Ary juga sudah siap dengan tidak
memakai celana dalam. Digesek-gesekannya
lontongnya yang sudah
mengeras di pahaku sambil jari-jari tangannya mempermainkan vaginaku.
Kubalas gerakan Ary dengan meremas-remas dan mengocok
lontongnya.
Nafsuku semakin naik, begitu juga Ary karena nafasnya terdengar semakin
memburu. Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, “Oh.. oh.. Wita.. Ary
sudah nafsu.. Wita haus kan.. Ary masukkan ya..” Aku pun sudah tidak
tahan, “Oh Ri.. masukkan cepat
lontongnya.. Wita sudah nggak tahan.. Ohh Ri..”



Kemudian, “Slep..” kurasakan lontong Ary yang lebih besar dan panjang dibandingkan lontong suamiku itu masuk dengan mudah masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah benar-benar basah itu. Kurasakan lontongnya
sampai menyentuh dinding vaginaku yang terdalam. “Oh.. Ri.. aduh
enaknya Ri.. oh gede Ri..” aku merintih, sambil kupeluk erat tubuh Ary.
Kudengar pula rintihan Ary sambil menurun-naikkan lontongnya di dalam vaginaku. “Oh.. oh.. agh.. Wita, enak sekali apem
Wita.. oh.. aagh..” Dari cara permainannya, aku merasakan Ary belum
berpengalaman dalam hal seks dan kelihatannya baru pertama kali ia
berbuat begini. Mungkin karena begitu nafsunya kami berdua kurang lebih
10 menit menikmati hujaman lontong Ary, aku sudah mau mencapai
orgasme. “Oh.. agh.. aduh Ri.. cepatkan tusukannya Ri.. Wita mau
keluar.. oh…aagh..” Kurasakan Ary pun sudah mau orgasme. “Oh.. agh..
Mbak, Ary juga mau keluar.. oh.. aaaghh..” Tak lama kemudian,
berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang
keluar dari penis Ary yang masih perjaka, keras dan berkali-kali
memenuhi lubang vaginaku. Kami berdua berpelukan erat merasakan
kenikmatan yang tiada taranya ini. Kubisikkan di telinga Ary, “Terima
kasih Ri, Mbak puas sekali..” Ary pun berbisik, “Aduh Wita, baru
pertama kali ini Ary rasakan enaknya apem.. Wita puas kan..” tambahnya.

Kemudian, Ary mencabut lontongnya
dari dalam lubang vaginaku. Aku berusaha menahannya karena aku ingin
nambah lagi. Ary berbisik, “Besok-besok aja lagi, sekarang Ary harus
keluar.. takut ada orang yang bangun..” Setelah mengecup kening dan
pipiku, Ary permisi keluar. Kubisikkan di telinganya, “Hati-hati ya
Ri.. jangan sampai ketahuan orang lain..” Walaupun belum begitu puas,
tapi hatiku bahagia bahwa Ary akan mengisi kesepian dan memenuhi
kebutuhan seksku selama suami di luar kota. Dalam hati aku pun
mengucapkan terima kasih kepada suamiku atas ijinnya dan pilihannya
yang tepat.

Setelah kejadian pertama ini, hubungan seksku dengan
adik suamiku ini terus berlanjut. Sayangnya hal ini kami berdua lakukan
di rumah, karena saat itu memang tidak pernah terpikir untuk main di
luar misalnya di Motel. Saking puasnya menikmati permainan seks dari
Ary, aku lupa akan jadwal kalender KB yang selama ini kugunakan.
Sedangkan setiap kali Ary menyetubuhiku, spermanya selalu ditumpahkan
di dalam vaginaku. Aku sendiri memang tidak menginginkan sperma Ary
ditumpahkan di luar, karena justru merasakan semburan dan kehangatan
sperma Ary di dalam vaginaku, merupakan suatu kenikmatan yang luar
biasa. Akibatnya setelah beberapa kali melakukan hubungan, aku sempat
terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan kepada Ary,
saat kami mengobrol berdua di paviliun. Khawatir benar-benar hamil,
kuminta Ary mengantarku ke dokter untuk memeriksakannya. Pada mulanya
Ary tidak setuju, dan ingin mempertahankan kehamilanku. Aku tidak
setuju dan tetap ingin menggugurkannya.

Keesokan paginya dengan
diantar Ary, aku memeriksakan diri ke suatu rumah sakit bagian
kandungan. Ternyata hasil pemeriksaan tidak bisa keluar hari itu juga,
dan harus menunggu tiga hari. Sampai dua hari setelah pemeriksaan
dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak sabar dan
khawatir jika ternyata aku benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan kepada
Ary dan kuminta ia membantu membelikan satu botol bir hitam untukku.
Keesokan harinya, Ary menyerahkan bir hitam itu kepadaku, dan malamnya
kuminum. Tiga hari setelah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang.

Setelah
mens-ku selesai sekitar 7 hari, aku dan Ary melanjutkan lagi hubungan
seks seperti biasanya. Praktis selama dua bulan ada 18 kali aku dan Ary
berhasil melakukan hubungan seks yang memuaskan dengan aman tanpa
ketahuan keluarga di rumah. Keinginan untuk melakukannya setiap hari
sulit terlaksana, mengingat situasi rumah yang tidak memungkinkan. Dari
sekian kali hubungan seksku dengan Ary, seingatku ada tiga kali yang
benar-benar sangat memuaskan diriku. Selain kejadian yang pertama kali,
hubungan seksku dengan Ary yang sangat memuaskan adalah sewaktu kami
berdua melakukan di suatu siang hari dan saat malam takbiran. Kejadian
di siang hari itu, yaitu saat aku selesai mandi dan bersiap-siap
berhias diri mau pergi ke kantor. Saat itu kedua mertuaku dan adik-adik
iparku yang lain sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Ary, yang
kebetulan sudah pulang dari kantornya, karena hari Jumat. Kedua anakku
asyik bermain dengan pengasuhnya.

Tanpa sepengetahuanku, saat
aku memakai make-up, tiba-tiba Ary masuk kamarku yang tidak terkunci.
Setelah menutup pintu kembali dan menguncinya, dari belakang ia
memelukku, melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, sehingga aku
dalam posisi telanjang bulat. Diciumnya pundak belakangku, sambil
tangannya memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan vaginaku.
Akibatnya, aku tak tahan dan vaginaku cepat basah. Segera kubalikkan
tubuhku dan kupeluk serta kulumat bibir Ary dengan penuh nafsu.
Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang
dan celana dalamnya. Kemudian aku jongkok di hadapannya, sambil
meremas, menjilati, dan mengulum lontongnya dalam mulutku.

Setelah kurasakan lontongnya
semakin keras, kudorong tubuh Ary duduk di tepi tempat tidur. Kemudian
aku berdiri membelakanginya, dan setengah jongkok kupegang dan
kuarahkan lontongnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk merasakan nikmatnya lontong
Ary yang telah masuk seluruhnya dalam lubang vaginaku. Sambil bergoyang
itu, aku merintih dan berdesah, “Oooh.. aaaghh..” Ary tak mau
ketinggalan, ia membantu menurun-naikkan pinggulku dan kadang-kadang
meremas-remas kedua buah dadaku. Kurang lebih tiga menit dengan posisi
ini, terasa aku sudah mau orgasme. Kupercepat gerakan turun naik dan
goyangan pinggulku, dan saat itu Ary merintih, “Oh.. oh.. Wita, Ary mau
keluar.. oh..”

Akhirnya berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan lontong
Ary menyemprotkan spermanya dengan keras memenuhi lubang vaginaku.
Tubuhku terasa terbang merasakan semprotan yang hangat dan nikmat itu.
Kemudian kukeluarkan lontong Ary dari lubang vaginaku. Kulihat masih cukup keras. Dengan penuh nafsu kujilati, kuhisap lontong Ary yang masih basah diselimuti campuran sperma kami berdua.

Tak berapa lama kemudian lontong
Ary kembali keras. Kemudian kuminta Ary menyetubuhiku dari belakang.
Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan posisi
menungging, kusuruh Ary memasukkan lontongnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang. Betapa nikmatnya kurasakan lontong Ary menghunjam masuk ke dalam lubang vaginaku, kemudian sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Ary mempercepat tusukan lontongnya. Dari cermin yang berada di hadapanku, kulihat gerakan dan ekspresi wajah Ary yang sedang mempermainkan lontongnya di dalam lubang vaginaku. Situasi ini menambah naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit merasakan tusukan-tusukan lontongnya,
aku tak tahan ingin orgasme lagi. Aku merintih, “Aduh.. oh.. agh.. Ri,
tembus Ri.. aagh.. Wita mau keluar lagi, cepatkan Ri.. oh.. aaghhh..”
Ternyata Ary pun mau keluar. Ia pun merintih, “Oh.. augh.. Wita, Ary
juga mau keluar.. aduh.. Wita.. bareng ya.. oh..” Beberapa saat
kemudian, secara bersamaan aku dan Ary mencapai orgasme. Kurasakan
kembali semprotan sperma Ary yang hangat dan nikmat lubang vaginaku.

Setelah
itu, kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku berkata, “Nakal ya..” Ary
mencium pipi dan keningku kemudian pamit keluar. Kemudian aku pun
keluar ke kamar mandi untuk membasuh vaginaku. Jam 14:00, jemputan
mobil dari kantorku datang. Malamnya sesuai janji via telepon, kembali
Ary masuk ke kamarku dan menyetubuhiku secara terburu-buru, karena
khawatir ada yang memergoki. Walau dalam keadaan terburu-buru,
persetubuhanku dengan Ary yang dilakukan setiap dini hari itu, cukup
memuaskan, karena paling tidak setiap bersetubuh itu aku bisa orgasme
minimal satu kali dan merasakan semprotan sperma Ary di dalam vaginaku.

Selanjutnya,
persetubuhanku dengan Ary yang benar-benar memuaskan dan menyebabkan
aku lemas tak berdaya adalah saat malam takbiran. Pada malam itu, aku
menginap di rumah orang tuaku. Sesuai janji via telepon Ary datang
menjengukku. Kami berdua duduk mengobrol merayakan takbiran di rumah.
Kedua orang tuaku menyuruhku menawarkan bir kepada Ary. Selesai acara
TV, ayahku pergi keluar rumah dan ibuku masuk tidur. Kini di ruang
tamu, tinggal aku dan Ary duduk berdua ngobrol sambil menikmati bir
sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik.
Kemudian aku pamit sebentar, melihat kedua anakku sekalian mengecek
Ibuku. Aku mengganti bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana
dalamku. Setelah kuketahui ibuku sudah pulas tidur dan keadaan aman,
aku kembali ke ruang tamu, duduk di sebelah Ary. Tak lama kemudian Ary
sudah memelukku, menciumiku sambil bertanya apa ibuku sudah tidur.
Mengetahui ibuku sudah tidur, Ary mulai menggerayangi vaginaku dengan
jari-jari tangannya sambil melumat bibirku. Aku menggelinjang dan
merintih, “Oh.. Ri.. enak sekali.. Ri.. oh terus Ri..” Aku tak mau
kalah dan kuremas-remas lontongnya dari luar celana yang membuat lontongnya
semakin keras. Kemudian kusuruh Ary berdiri, kubuka reitsleting celana
panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. Kulihat dan rasakan lontong Ary lebih keras dan besar dari biasanya.

“Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ri lontongnya?”
Ary berterus terang bahwa sorenya ia minum jamu kuat laki-laki sebagai
persiapan untuk memuaskan diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum lontongnya
dengan penuh nafsu. Karena tak tahan lagi, kudorong tubuh Ary duduk di
sofa. Aku duduk di atas pangkuannya. Kemudian kupegang dan arahkan lontongnya ke dalam vaginaku. “Wow.. aduh Ri.. gede banget dan enak Ri, lontongnya..
aduh.. oohh..” aku mengerang. Sambil kulumat bibirnya, kunaik-turunkan
pinggulku agar dapat merasakan gerakan, tusukan dan denyutan lontong Ary. Sekitar dua menit kugoyang, akhirnya aku mencapai orgasme karena tak tahan merasakan lontong
Ary yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua
merubah posisi dengan doggy style. Kurang lebih tiga menit, lagi-lagi
aku tidak tahan dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Setelah
beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Lontong
Ary masih keras dan ia belum keluar sama sekali. Lagi-lagi, mungkin
karena pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, aku mencapai orgasme yang
ketiga kalinya.

Dengan masih mempertahankan lontongnya
yang keras dan panjang di dalam vaginaku, Ary menggendongku masuk ke
kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas lantai yang sudah
kusiapkan. Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat
kalinya saat Ary menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah itu aku
tak ingat lagi dan menyerah pasrah menerima tusukan-tusukan lontong Ary.

Mungkin
lebih dari 10 kali aku mencapai orgasme, dan aku tak tahu berapa kali
Ary keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang
amat sangat pada diriku walau kakiku rasanya gontai dan lemas.
Kurasakan juga kehangatan sperma Ary yang masih ada di dalam vaginaku.
Tak disangka selingkuhku di malam takbiran dengan Ary adik suamiku
adalah yang terakhir, karena beberapa hari kemudian, suamiku sudah
kembali ke rumah.

Sekembalinya suami di rumah, malam harinya
suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah
jadi selingkuh dengan Ary. Karena memang sudah diijinkannya, aku
berterus terang mengaku. Pada mulanya suamiku agak marah, mungkin
tersinggung, tapi akhirnya ia memaafkanku. Sejak saat itu hubunganku
dengan Ary praktis terputus. Namun, Ary masih mencoba mendekatiku dan
berusaha mengajakku untuk berhubungan lagi. Hal itu ia lakukan beberapa
kali via telepon saat suamiku ke kantor. Walau sebenarnya aku sendiri
masih menginginkannya, namun ajakan Ary tersebut terpaksa kutolak.
Selain suasana rumah memang tidak memungkinkan, aku juga khawatir jika
suamiku akan marah karena ia belum mengijinkan lagi.

Peristiwa
perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi
pengalaman yang manis sampai saat ini. Lebih dari itu, jika suami
mengungkit-ungkit lagi masalah ini dan minta aku menceritakannya
kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, malah sebaliknya kasih
sayang yang makin besar.

Setiap kali akan meniduriku, untuk
merangsang dirinya, suamiku selalu meminta aku untuk menceritakan
kembali pengalaman selingkuhku dengan adiknya itu. Ia kerap bertanya
posisi apa saja yang aku dan Ary lakukan saat berhubungan seks, berapa
kali aku klimaks, bagaimana rasanya vaginaku menerima semburan sperma
Ary dlsb. Untuk membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur.
Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks suamiku semakin
meningkat dan ia meminta aku mempraktekannya kembali dengan menganggap
dirinya sebagai Ary. Terus terang, gairah seksku pun semakin meningkat
saat harus membayangkan dan mempraktekan kembali cara-cara hubungan
seksku dengan Ary.

Ternyata perselingkuhan tidak selalu merusak
keharmonisan rumah tangga. Mungkin ada benarnya jika orang
menerjemahkan arti kata ‘selingkuh’ sebagai ‘selingan indah keluarga
utuh’.

TAMAT                   

Adik Suami Pemuas Nafsuku

No Comment yet. Be the first to comment on Adik Suami Pemuas Nafsuku

Leave Your Comment Here!