TexasPoker

Cerita Seks, Guru Les Privat, Bag 2

10th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 873 Views | No Comments

www.sang-pakar.pw Cerita Seks, Guru Les Privat, Bag 2

“Aaahh..
Uuuhh. ooohh”, Fanny menggelinjang gelinjang geli dan nikmat, jemari
itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadanya yang mulai
berkembang lembut dan putih, seraya terus berpagutan. Dia merasa
semakin nikmat, geli dan melambungkan angan-angannya.

Ujung
jariku mulai mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan
kemerahan itu dengan sangat hati-hati. “Kak.. Aaahh.. uuhh.. ahh”.
Fanny mulai menunjukkan tanda-tanda terangsang hingga berusaha ikut
membuka kancing bajuku, agak susah, tapi dia berhasil. Tangannya
menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya makin
memuncak. “Ngghh.. “, vaginanya yang basah semakin membuatnya nikmat,
pikirku. Fanny menurut ketika badannya diangkat sedikit, dibiarkannya
baju dan branya kutanggalkan, lalu dilempar ke samping tempat tidur.

Sekarang
tubuh bagian atasnya tidak tertutup apapun, dia tampak tertegun dan
risih sejenak, saat mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Di sisi lain dia
merasa kagum dengan dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul
di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya
sendiri. Sedangkan aku tertegun sejenak melihat pemandangan di depan
mataku, birahiku bergejolak kembali, aku berusaha mengatur pernafasan,
karena tidak ingin melepaskan nafsu binatangku hingga menyakiti
perasaan gadis cantik yang tergolek pasrah di depanku ini.

Aku
mulai mengulum buah dada gadis itu perlahan, terasa membusung lembut,
putih dan kenyal. Diperlakukan seperti itu Fanny menggelinjang, “Ahh..
uuuhh.. aaahh”. Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya
terbang tinggi. Buah dadanya yang putih, lembut, dan kenyal itu terasa
nikmat kuhisap lembut, tarian lidah diputing susunya yang kecil
kemerahan itu mulai berdiri dan mengeras.

“Aaahh..!”, dia
merintih geli dan makin mendekap kepalaku, vaginanya mungkin kini
terasa membanjir. Birahinya semakin memuncak. “Kak.. ahh, terus Kak..
ahh.. Uhh”, rintihnya makin panjang. Aku terus mempermainkan buah dada
gadis lugu itu dengan bibir dan lidahku, sambil membuka kancing bajuku
sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, terlihat dadaku
yang bidang dan atletis.

Kembali ujung bibirnya kukulum, terasa
geli dan nikmat. Saat Fanny akan membalas memagutnya, telapak tangannya
kupegang dan kubimbing naik ke atas kepalanya. Aku mulai mencium dan
menghisap lembut, dan menggigit kecil tangan kanannya, mulai dari
pangkal lengan, siku sampai ujung jarinya diisap-isap. Membuatnya
bertambah geli dan nikmat. “Geli.. ahh.. ohh!”

Perasaannya melambung
kembali, ketika buah dadanya dikulum, dijilati dan dihisap lembut.
“Uuuhh.!”, dia makin mendekapkan kepalaku, itu akan membuat vaginanya
geli, membuat birahinya semakin memuncak.

“Kak.. ahh, terus kak..
ahh.. ssst.. uhh”, dia merintih rintih dan menggelinjang, sesekali
kakinya menekuk ke atas, hingga roknya tersingkap.

Sambil terus
mempermainkan buah dada gadis itu. aku melirik ke paha mulus, indah
terlihat di antara rok yang tersingkap. Darahku berdesir, kupindahkan
tanganku dan terus menari naik turun antara lutut dan pangkal paha
putih mulus, masih tertutup celana yang membasah, Aku merasakan birahi
Fanny semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.

“Kak..
ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”, terdengar gadis itu merintih panjang. Aku
dengan pelan dan pasti mulai membuka kancing, lalu menurunkan
retsleting rok abu-abu itu, seakan Fanny tidak peduli dengan tindakanku
itu. Rangsangan yang membuat birahinya memuncak membuatnya bertekuk
lutut, menyerah.

“Jangan Kak.. aahh”, tapi aku tidak peduli,
bahkan kemudian Fanny malah membantu menurunkan roknya sendiri dengan
mengangkat pantatnya. Aku tertegun sejenak melihat tubuh putih mulus
dan indah itu. Kemudian badan gadis itu kubalikkan sehingga posisinya
tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.

“Uuuhh”,
ketika membalikkan badan, Fanny melihat sesuatu yang menonjol di balik
celana dalamku. Dia kaget, malu, tapi ingin tahu. “Aaahh”. Fanny mulai
merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang kalah
oleh nafsu birahi yang telah menyelimuti perasaannya. “Ahh..”, dia diam
saja saat aku kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah
di antara pangkal paha, dia kini memegang dan merasakan serdadu yang
keras bulat dan panjang di balik celanaku, sejenak Fanny sejenak
mengelus-elus benda yang membuat hatinya penasaran, tapi kemudian dia
kaget dan menarik tangannya.

“Aaahh”, Fanny tak kuberikan
kesempatan untuk berfikir lain, ketika mulutku kembali memainkan puting
susu mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada.
Vaginanya terasa makin membanjir, hal ini membuat birahinya makin
memuncak. “Ahh.. ahh.. teruuus.. ahh.. uhh”, sambil terus memainkan
buah dadanya, tanganku menari naik turun antara lutut dan pangkal
pahanya yang putih mulus yang masih tertutup celana. Tanpa disadarinya,
karena nikmat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan
mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal
paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.

“Teruuuss..
aaahh.. uuuhh”, karena geli dan nikmat Fanny mulai membuka kakinya,
jari-jari Rene yang nakal mulai menyusup dan mengelus vaginanya dari
bagian luar celana, birahinya memuncak sampai kepala.

“Ahh.. terus..
ahh.. ohh”, gadis itu kaget sejenak, kemudian kembali merintih rintih.
Melihat Fanny menggelinjang kenikmatan, tanganku mencoba mulai menyusup
di balik celana melalui pangkal paha dan mengelus-elus dengan lembut
vaginanya yang basah lembut dan hangat. Fanny makin menggelinjang dan
birahinya makin membara. “Ahh.. teruusss ooh”, Fanny merintih rintih
kenikmatan.

Aku tahu gadis itu hampir mencapai puncak birahi,
dengan mudah tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu
perlahan. Benar saja, Fanny membiarkannya, sudah tidak peduli lagi
bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas
tanpa halangan.

Tubuh gadis itu kini tergolek bugil di depan
mataku, tampak semakin indah dan merangsang. Pangkal pahanya yang
sangat bagus itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai tumbuh halus.
Vaginanya tampak kemerahan dan basah dengan puting vagina mungil di
tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang sekarang berdiri tegak
sambil terus mengelus bibir vagina makin membanjir. “Kak.. ahh, terus
Kak.. ahh.. uhh”.

Vagina yang basah terasa geli dan gatal,
nikmat sampai ujung kepala. “Kak.. aahh”, Fanny tak tahan lagi dan
tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang serdadu yang
keras bulat dan panjang itu. Fanny tidak merasa malu lagi, bahkan mulai
mengimbangi gerakanku.

Aku tersenyum penuh kemenangan melihat
tindakan gadis itu, secara tidak langsung gadis itu meminta untuk
bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat
serdaduku yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, mata
gadis itu terbelalak kagum.

Sekarang kami tidak memakai penutup
sama sekali. Fanny kagum sampai mulutnya menganga melihat serdadu yang
besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, baru pertama kali dia
melihat benda itu. Vaginanya pasti sudah sangat geli dan gatal, dia
tidak peduli lagi kalau masih perawan, kemudian telentang dan
pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.

Sejenak aku tertegun
melihat vagina yang bersih kemerahan dan dihisi bulu-bulu yang baru
tumbuh, lubang vaginanya tampak masih tertutup selaput perawan dengan
lubang kecil di tengahnya.

Fanny hanya tertegun saat aku berada
di atasnya dengan serdadu yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada
lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil
menjelajahi seluruh tubuhnya. Kuluman di puting susu yang disertai
dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan
hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri. “Kak.. ahh, terus
ssts.. ahh.. uhh”, birahinya memuncak bisa-bisa sampai kepalanya terasa
kesemutan, dipegangnya serdaduku. “Ahh” terasa hangat dan kencang.

“Kak..
ahh!”, dia tak dapat lagi menahan gejolak biraninya, membimbing
serdaduku ke lubang vaginanya, dia mulai menginginkan serdaduku
menyerang ke lubang dan merojok vaginanya yang terasa sangat geli dan
gatal. “Uuuhh.. aaahh”, tapi aku malah memainkan topi baja serdaduku
sampai menyenggol-nyenggol selaput daranya. “Ooohh Kak masukkan ahh”,
gadis itu sampai merintih rintih dan meminta-minta dengan penuh
kenikmatan.

Dengan hati-hati dan pelan-pelan aku terus
mempermainkan gadis itu dengan serdaduku yang keras, hangat tapi lembut
itu menyusuri bibir vagina.

“Ooohh Kak masukkan aaahh”, di sela
rintihan nikmat gadis itu, setelah kulihat puting susunya mengeras dan
gerakannya mulai agak lemas, serdadu mulai menyerang masuk dan menembus
selaput daranya, Sreetts “Aduuhh.. aahh”, tangannya mencengkeram
bahuku. Dengan begitu, Fanny hanya merasa lubang vaginanya seperti
digigit nyamuk, tidak begitu sakit, saat selaput dara itu robek,
ditembus serdaduku yang besar dan keras. Burungku yang terpercik darah
perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan sampai
setengahnya, ditarik lagi pelan-pelan dan hati-hati. “Ahh”, dia
merintih kenikmatan.

Aku tidak mau terburu-buru, aku tidak ingin
lubang vagina yang masih agak seret itu menjadi sakit karena belum
terbiasa dan belum elastis. Burung itu masuk lagi setengahnya dan..
Sreeets “Ohh..”, kali ini tidak ada rasa sakit, Fanny hanya merasakan
geli saat dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya. Fanny
menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.

“Kak..
ahh, terus Kak.. ohh.. uhh”, serdaduku terus menghunjam semakin dalam.
Ditarik lagi, “Aaahh”, masuk lagi. “Ahh, terus… ahh.. uhh”, lubang
vagina itu makin lama makin mengembang, hingga burung itu bisa masuk
sampai mencapai pangkalnya beberapa kali. Fanny merasakan nikmat
birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan,
badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi.
“Aaahh, ooohh, aaahh” vaginanya berdenyut-denyut melepas nikmat. Dia
telah mencapai puncak orgasme, kemudian terlihat lega yang menyelimuti
dirinya.

Melihat Fanny sudah mencapai orgasme, aku kini melepas
seluruh rasa birahi yang tertahan sejak tadi dan makin cepat merojok
keluar masuk lubang vagina Fanny, “Kak.. ahh.. ssst.. ahh.. uhh”, Fanny
merintih dan merasakan nikmat birahinya memuncak kembali. Badannya
kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.

“Ahh.. oohh..
ohh.. aaaahh!”, kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan.
Dan mereka mencapai orgasme hampir bersamaan, terasa serdadu
menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih
berdenyut nikmat.

Aku mengeluarkan serdadu yang terpercik darah
perawan itu pelan-pelan, berbaring di sebelah Fanny dan memeluknya
supaya Fanny merasa aman, dia tampak merasa sangat puas dengan
pelajaran tahap awal yang kuberikan.

“Bagaimana kalau Fanny hamil Kak”, katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.

Sesaat
kemudian aku dengan sabar menjelaskan bahwa Fanny tidak mungkin hamil,
karena tidak dalam masa siklus subur, berkat pengalamanku menganalisa
kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.

Fanny
semakin merasa lega, aman, merasa disayang. Kejadian tadi bisa
berlangsung karena merupakan keinginan dan kerelaannya juga. Diapun
bisa tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur
pulas dipelukanku yang telah menjadikannya seorang perempuan.

Bangun
tidur, Fanny membersihkan badan di kamar mandi. Selesai mandi dia
kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah
dan menggairahkan sampai-sampai aku tak berkedip memandangnya.
Diambilnya pakaian yang berserakan dan dikenakannya kembali satu
persatu. Kemudian dia pamit pulang dan mencium pipiku yang masih
berbaring di tempat tidur.

TAMAT                   

Cerita Seks, Guru Les Privat, Bag 2

No Comment yet. Be the first to comment on Cerita Seks, Guru Les Privat, Bag 2

Leave Your Comment Here!