TexasPoker

Enno Si Penyiar Cantik

1st August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 659 Views | No Comments

www.sang-pakar.pw Enno Si Penyiar Cantik

Kejadian ini merupakan suatu sejarah
kehidupan biruku beberapa tahun yang lalu, tepatnya 27 Maret 20115,
hampir setahun setelah lulus SMA di Magelang dan sedang menunggu
panggilan bekerja dari sebuah perusahaan penerbangan di Jakarta.

Pagi
itu, aku bangun dengan penuh semangat, ada janji jalan-jalan bersama
mantan adik kelasku di SMA **** (edited). Hari itu hari libur sekolah.
Namanya Enno **** (edited), dia seorang penyiar remaja yang cukup
dikenal di kota kecil itu, pada masa itu. (kalau ada yang kenal, tolong
salamin ya?)

Dengan Astrea 800 warna merah kesayangan, kujemput
dia sekitar pukul sembilan pagi. Saat kebetulan sampai di sana Enno
memang baru menungguku. Sementara menunggu Enno mandi, aku ngobrol
dengan mamanya. O iya, si Enno tinggal berdua dengan mamaknya (dia
panggil ibunya ’emak’)

Tak lama kemudian Enno selesai mandi,
emaknya masuk ke ruang tengah. Ruang tamu cuma kita bedua, setelah Enno
berganti baju, adegan French kiss mengalun begitu saja. Singkat cerita,
kayaknya kok tidak nyaman kissing di ruang tamu, lalu kita sepakat
untuk jalan-jalan saja.

Tepat pukul sepuluh, setelah sedikit
berbasa-basi dengan mamanya, kita pergi menuju ke pinggiran kota.
Sepanjang jalan kami sama-sama diam tak tahu mau ke mana. Kuarahkan
sepeda motorku ke arah Borobudur, sebelum sampai ke kawasan candi,
kubelokkan motorku ke arah kali Progo (melewati Mendut) menuju daerah
Ancol salah satu tempat pacaran favorit di pinggiran kota Magelang. Dan
di sana kissing kita teruskan lagi, maklum waktu itu status kita belun
resmi pacaran, baru hobby sama lagu Slank “Ameican style” gitu… Kita
belum terpikir untuk melakukan hubungan badan yang terlalu jauh waktu
itu. Namun, setiap hal pasti memiliki sebuah awal, dan hanya alamlah
yang tahu dari mana sang awal itu berasal.

Tiba-tiba langit
menjadi gelap (Padahal pagi tadi cerahnya bukan main). “Nduk.., (begitu
panggilan sayangku padanya) kayaknya mau ujan nih..”.

Gendhuk diam
saja, Untuk beberapa saat dia memandangi mukaku yang hancur seperti si
Komar 4 sekawan itu. Pandangannya agak meredup, lalu dia memelukku,
satu kecupan mendarat di bibir tebalku, sesaat kemudian kulihat Gendhuk
tersenyum penuh arti dan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu.
Meskipun tiada kata cinta yang terucap, aku hanya mengerti, apa arti
senyumannya itu.

Tanpa banyak tanya, aku starter lagi motorku
yang sejak tadi kuparkir di pinggiran sungai Progo, aku pacu seolah
ingin berburu dengan hujan yang sewaktu-waktu mungkin tiba. Kupegang
tangannya, kutarik agar dadanya lebih menempel di punggungku, terasa
payudaranya yang mulai ranum itu menusuk lembut mata punggungku.

Setelah
beberapa kilometer kuhentikan motor dan kusuruh dia duduk di depan.
Kujalankan lagi motor pelan-pelan. Saat itu gerimis mulai turun.
Sementara dari kejauhan, kota Magelang sangat gelap, mungkin sudah
deras hujannya. Posisi duduk kami di motor sangat romantis, Aku duduk
di belakang, tangan kananku memegang stang gas, tangan kiriku
menggenggam erat tangan kanannya. Tangan kiri Gendhuk memegar stang
kiri.

Sambil menyanyikan lagu Nothings Gonna Cahange, kusuruh
tangan kanannya berpegangan pada speedometer. Sementara secara naluri,
tangan kiriku mulai masuk ke sweaternya. Kucari dua gundukan itu, lalu
kuremas-remas setelah kudapatkan.

Motor kami masih berjalan
pelan menyusuri jalan Borobudur – Magelang. Kendaraan lain hanya
terkadang lewat, suasana alam cukup mendukung keberadaan kami untuk
berduaan saja.

Setelah beberapa menit, langit semakin menghitam,
sementara Enno mulai menggeliat sembari mendesis-desis kecil. Saat
tanganku berpindah ke arah celana jeans-nya, Enno tak melarangnya. Aku
buka ritsluitingnya, kudorong sedikit duduknya sehingga posisinya agak
kupangku, kumasukkan tangan kiriku ke dalam celananya, kumainkan jariku
sedapat-dapatnya. Teman-teman, meski kejadiannya di atas motor, namun
sensasi yang kami rasakan lumayanlah. Bulu-bulunya terasa halus di
ujung jemariku dan sedikit ke bawah kemudian, jariku menyentuh
kewanitaannya secara acak demikian juga klitorisnya. Sedikit desahan
tersendat kurasakan di dadaku karena memang posisiku menempel ketat di
belakangnya, sementara itu si ucok sudah tidak peduli terhadap cuaca
yang lumayan dingin karena gerimis.

Lalu bagai tak sadar, tangan
Enno merayap ke belakang, mencari-cari pusakaku. Aku tahu posisinya
agak sulit buat dia, makanya aku membantu buka ritsluiting celanaku,
kubimbing tangannya memasukinya. Dan apa yang kami rasakan pastilah
bisa kalian bayangkan saudara-saudaraku…

Tak berapa lama
kemudian, kami putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, kepalang
tanggung, jam sudah menunjuk angka dua. Setelah ber-petting di motor,
kuarahkan motor melaju menuju Muntilan. Karena arah Magelang – Muntilan
adalah jalan utama, kami menghentikan aktifitas kami yang cukup
melelahkan perasaan dan tenaga tersebut.

Kupacu sepeda motorku
sampai di Blabag (sebelun Muntilan) kubelokkan stang ke kiri mendaki
menuju arah gunung Merapi. Saat itu aku yakin, walau kubawa ke manapun
dia tidak akan menolak. Benih cinta itu kami rasakan sedang berkembang
saat itu. O Iya, sebelumnya kami sudah bertukar tempat duduk lagi
sehingga aku di depan, sedangkan tangannya sudah tak mau lepas dari
kepala kentangku, malah sekarang kedua tangannya telah masuk ke dalam.
Motor tetap kupacu sekitar 40 Km/jam, kendaraan banyak berseliweran
tapi kami sudah tak peduli. Enno masih melayang dengan kedua tangan di
dalam celanaku dan tertutup oleh ujung sweaterku, sehingga orang
sekilas akan mengira tangannya hanya memeluk pinggangku saja.

Sementara
aku masih berjuang untuk tetap konsentrasi mengemudikan motor ke arah
Kedung Kayang, suatu tempat sakral para sejoli mencari tempat pacaran.
Kedung Kayang terletak di tepian gunung Merapi, berupa sebuah jurang
yang dalam dengan panorama yang luar biasa indahnya. Teman-teman,
sebenarnya aku tak tahu kenapa kita ke tempat itu, (bukannya ke hotel
misalnya..) naluri membawa tanganku untuk menuju ka sana.

Sementara hujan akan segera mengucur…

Sampai
di Kedung Kayang suasana sangatlah sepi. Tak satupun kendaraan
terparkir di sana. Maklum mendung dan gerimis. Kami turun dari motor,
sedikit berjalan ke arah sebuah tempat berteduh, berjalan beriringan
tanpa satupun kata terucap, kepala kami terlalu sarat dengan apa yang
baru saja kami lakukan. (sebagai info: saat itu adalah pertama kali
melakukan petting, sebelumnya hanya French kiss aja..)

Gerimis
mulai lenyap berganti hujan, kami telah cukup selamat berteduh, meski
baju kami agak basah. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama… Kami
tidak tahu mau berkata apa, tetapi kami juga tidak merasa menunggu
apa-apa. Di beberapa detik berikutnya, tangan kami telah berpegangan.
Kuusap pipinya dengan beribu kata di hati. Terasa ada gemuruh, entah di
dalam dada, entah di luar sana geledek yang lewat.

Seiring
dengan beriramanya hujan yang makin menderas, secara refleks kepala
kami saling menyongsong, bibir kami saling berpagut.., lama dan mesra.
Kedua tanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari
bersama. Kurasakan tangannya mulai naik merangkul leherku, semakin lama
makin erat pegangannya. Kuturunkan bibir dowerku ke arah leher
jenjangnya, kuciumi dengan nafsu yang sedikit kupendam sehingga tak
meluap begitu saja.

Tiba-tiba kepalanya terdongak, dan kali
itulah aku melihat seorang wanita menggelinjang.. indah sekali,
tangannya yang mengejang menambah erat pelukan di leherku. Kuhentikan
secara mendadak ciumanku di lehernya, sempat kulirik hujan telah turun
dengan derasnya bagai kesetanan.

Enno sempat kaget saat
kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum, lalu dengan cepat kusambar lagi
lehernya dengan nafsu yang tak dapat kutahan lagi. Kujilati lehernya,
aku cupang pangkal lehernya.

Irama hujan seolah menabuhi apa
yang kami lakukan. Desahan nafas kami sama-sama memburu bagaikan
bernyanyi dengan alam Kedung Kayang yang angker keindahannya. Lalu
dengan kasar kunaikkan t-shirtnya sampai ke lehernya, kupegang
pantatnya dengan tangan kiriku kuremas-remas dengan gemas, dan tangan
kananku menarik kutangnya ke atas searah t-shirt yang kuangkat tadi.
Kutemukan dua gundukan indah yang lebih ranum dari Merapi yang usianya
sudah seumur bumi. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok
sejadi-jadinya hingga wajahnya merah merasakan kekasaranku.

Desahan-desahannya
sudah tak kuhiraukan lagi (kelak aku meyadari bahwa cinta dan nafsu
ternyata bagaikan Qobil dan Habil anak Adam dan Hawa). Kudorong
tubuhnya ke arah tembok agar tak terlalu berat menyangga beban berat
tubuhnya yang disesaki berahi itu. Kumajukan kaki kiriku ke arah
selangkangannya, kutundukkan kepalaku dan kujilati puting susunya,
kusedot-sedot dengan kekuatan penuh seperti dendam pada sang hujan
kenapa baru sekarang aku dikenalkan dengan kenikmatan seperti ini.
Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek
tak tahu sudah sampai di mana otaknya yang melayang. Aku masih tak
perduli, sex is sex…

Kini badannya lemas tidak.., kakupun
tidak, hanya kepasrahan saja yang kudapati di raut mukanya yang tak
lagi manis itu dan tak lagi cantik itu karena mataku juga sudah khilaf.

Setelah
beberapa cupanganku menghiasi sekitar putingnya, kini dengan satu
tangan kuremas pantat, satu tangan lagi berkarya di ritsluitingnya.
Kubuka celananya, masih dengan nafas yang memburu, kulorotkan celananya
sampai dengkulnya, kumasukkan tangan kananku ke dalan CD-nya, bagai
tanpa perasaan lagi kumainkan dengan ganas vaginanya, kusentil-sentil
sekitar clitorisnya, dia melenguh di dunia tanpa akal. Kumasukkan jari
tengahku ke arah lubang vaginanya, kumasukkan dengan ganas,
kuputar-putar jari tengahku di dalam vaginanya yang sedamg
ranum-ranumnya. Sambil kusedot dengan kuat susu kirinya, aku mainkan
tangan kiriku di lubang pantatnya, masih terdengar jelas suaranya
memanggil-manggil namaku dengan penuh kenikmatan.

Akhirnya
setelah orgasme yang kesekian baginya, kubuka celanaku, kuturunkan
sebatas dengkul, kuturunkan juga celana dalamku, dengan posisi agak
jongkok, kutarik kaki kiri pasanganku, dengan galak kunaikkan sedikit
kakinya lalu dengan penuh nafsu kuarahkan moncong “hidung” pinokioku ke
arah lubang sorganya. Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih
di antara erangan kenikmatannya.

Kini matanya terbuka,
dipandanginya aku dengan sorot yang tak bisa kulukiskan dengan
kata-kata, lalu dengan cepat mulutnya menyambar mulutku. Permainan
bertambah panas setelah itu, seolah-olah kami sudah tak ingin membuang
waktu lagi. Dengan isyaratnya, kuhujamkan penisku dengan agak kasar,
kurasakan mulutnya seakan menahan sesuatu saat berpagut dengan mulutku,
tapi kini kami tak perduli. Dengan saling bantu, akhirnya sedikit-demi
sedikit penisku berhasil ditelan dengan mesra oleh vaginanya.
Benar-benar basah, panas dan berjuta perasaan meledak di dalam dada
saat kurasakan vaginanya bagaikan mulut bayi yang menghisap kempongnya
dengan gemas.

Agak lama juga kami saling menggocok, menggoyang
dan bertempur lidah.., sampai akhirnya batas kemampuan kami berdua
telah sampai di ambang batas, dengan di awali suara gelegar geledek di
atas tempat kami berlindung, sebuah erangan keras dan tubuh mengejang
sama-sama mewarnai hari bersejarah tersebut. Kami mencapai orgasme
bersama-sama semenit sebelum kaki kami lunglai menahan berat beban
nafsu kami.

Sekitar setengah menit kemudian kami berpelukan,
kedua alat reproduksi kami masih berpelukan juga. Lalu hujan berhenti
berganti dengan gerimis. Kami rapikan lagi baju kami berdua. Kami
terdiam, menatap pemandangan basah di sekitar kami. Indah.., seindah
suasana selanjutnya saat kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kami
menikmati sisa-sisa orgasme kami.

Beberapa saat kemudian
serombongan keluarga melewati kami. Aku bersyukur, mereka tidak datang
sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatif sangat terbuka.
Seorang ibu sempat mengernyitkan dahinya melihat kami berpelukan.
Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dan kulihat
bagian belakang kaosnya berwarna merah.

“Ndhuk..”, aku
memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagian bawah
kaosnya. Sedikit ekspresinya menandakan kekagetannya. Darah…. Ya,
sore itu kami melepaskan keperawanan kami berdua. Lalu dia tersenyum.
Kami berpandangan, lalu berpelukan.

Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul lima seperempat. Kami pulang dengan wajah sangat bahagia.

TAMAT

Enno Si Penyiar Cantik

No Comment yet. Be the first to comment on Enno Si Penyiar Cantik

Leave Your Comment Here!